Sarana Transportasi Alternatif di Kampung Bandan " Ojek Lori " - AnakDolan.com

Rabu, 27 Januari 2016

Sarana Transportasi Alternatif di Kampung Bandan " Ojek Lori "

Siang begitu terik. Suhu udara begitu panas saat itu. Disalah satu sudut kota Jakarta. Dibalik gedung dan beberapa pusat perbelanjaan. Ada satu wilayah yang menyimpan keunikan tersendiri dalam hal transportasi. Kampung Bandan tepatnya. Di wilayah yang padat penduduk ini, terdapat bentangan rel milik PT Kereta Api Indonesia yang sudah tidak terpakai. Rel yang menghubungkan antara Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Kota. Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan rel ini sudah tidak berfungsi. Ada yang mengatakan dari tahun 1995, ada pula yang mengatakan dari tahun 1998.
dan keberadaan rel yang tidak berfungsi ini, dimanfaatkan dengan baik oleh warga setempat. Mereka menciptakan suatu transportasi murah meriah. Namanya Lori. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lori adalah gerobak yang berjalan diatas rel. Dan yang terlihat memang seperti gerobak. Terbuat dari potongan-potongan kayu dan dibentuk seperti gerobak seukuran lebar rel. Serta dibawahnya ada roda terbuat dari besi. Lori berjalan dengan cara didorong. Satu buah lori bisa memuat sekitar 4 sampai 6 penumpang. Dan tak ada yang tahu pasti juga, siapa yang awalnya menciptakan lori ini. Menurut cerita, lori itu dibuat awalnya untuk mengangkut drum air minum keperluan warga. Namun makin lama makin berkembang sehingga menjadi alat transportasi bagi warga sekitar.

Dan warga sekitar merasa terbantu dengan adanya angkutan ini. Lebih murah dibanding naik ojek. Jarak terjauh setiap orang dari Pangkalan ( Tak jauh dari Stasiun Kota) sampai ke Pasar Nalo, sekitar 15 ribu rupiah perorang. Jarak terdekat 5 ribu rupiah. Dan harga itu pun tidak menjadi patokan. Tergantung tawar menawar saja. Beberapa warga setempat menjadikan angkutan ini menjadi pencari nafkah . Entah anak-anak, orang muda bahkan yang tua pun asal punya kemauan mendorong lori, bisa mendapatkan penghasilan dari angkutan ini. Seperti siang itu, penulis mencoba angkutan ini. Berjalan menyusuri lintasan rel kereta api, yang salah satu sisinya dipenuhi oleh rumah penduduk. Sebuah pemandangan khas pun terbentang. Dan akhirnya, penulis tiba di sebuah tempat yang disebut pangkalan oleh para pendorong lori ini. Siang itu, tidak terlihat banyak lori yang berjajar. Hanya sekitar lima lori saja. Padahal biasanya ada belasan lori siap mengantar penumpang. Mungkin karena saat itu hari libur.

Di Pangkalan Lori
Terlihat para pendorong lori sedang menunggu penumpang. Dan pendorong lori ini didominasi anak-anak usia sekitar belasan tahun. Penulis mencoba untuk lebih dekat dengan mereka setelah tiba di pangkalan. Beberapa dari mereka ada yang bertanya ketika penulis memulai membidik kegiatan mereka. "Foto buat apa Bang ?" tanya mereka. Buat tulisan Dik, jawab penulis. Dan penulis akhirnya berkenalan dengan beberapa dari anak-anak tersebut. Ada Mung, Remo, Ipin, Erwin. Dani. Mereka adalah bagian dari puluhan anak yang mencari nafkah dengn mendorong lori. Ada yang masih bersekolah. Ada yang sudah putus sekolah karena ketiadaan biaya. Tapi satu tujuan mereka, dan hampir sama jawaban mereka ketika ditanya kenapa menjadi pendorong lori. Kita ingin membantu orangtua Bang. Tulus sekali jawaban mereka. Tak terbersit beban di wajah mereka, padahal mereka sudah "kehilangan" masa anak-anak karena harus membantu orangtua. Begitulah hidup di Jakarta. Begitu keras. Sesekali mereka bercanda ditengah beberapa pertanyaan yang penulis ajukan. Seperti misalnya, mereka menjawab "Kita narik mah ngikutin jam kantor Bang" ketika ditanya kalau narik mulai jam berapa. Tuh..tuuh..si Ipin mah gak ada berhentinya kalau narik, kalau kaki belum pegel dia gak bakal berhenti narik tuh Bang, salah satu dari mereka menambahkan sembari menunjuk anak yang dipanggil Ipin. Dan cara mereka untuk mengatur siapa yang narik duluan pun ternyata diatur dengan kesepakatan mereka. Bahwa tidak harus menunggu lori penuh oleh penumpang, kalau ada calon penumpang sudah melewati perbatasan rel, dan kebetulan lori nya siap berangkat, maka calon penumpang itu milik lori yang siap jalan. Jika masih jauh tidak boleh ditunggu, karena itu hak lori berikutnya. Jam kerja mereka dari pagi hingga sore hari. Jam 5 pagi mereka sudah siap. Jika ada pendorong lori yang bersekolah siang, maka pagi hari untuk mengisi waktu mereka akan narik sampai jam 11 siang.

Pendapatan mereka juga sebenarnya tak seberapa. Namun itulah yang mereka bisa lakukan untuk membantu orangtua mereka. Jika sedang ramai penumpang, mereka bisa mendapatkan uang sekitar 50 ribu rupiah sehari. Jumlah tersebut akan dipotong untuk sewa lori sebesar 10 ribu rupiah. Sisanya mereka bagi dua untuk dirinya dengan orangtuanya. Uang yang bagian kamu untuk apa ? tanya penulis. Ya ada yang ditabung, ada yang buat jajan jawab seorang anak. Ah syukurlah, jika mereka punya pemikiran untuk menabung. Bahkan penulis merasa salut karena diantara mereka bisa membeli sesuatu untuk memenuhi keperluannya sendiri.

Siang semakin panas. Tak lama terlihat calon penumpang mendekati lori. Ternyata lori milik Remo mendapat giliran. Dengan sigap mereka menghampiri calon penumpang tersebut, lalu membantu menaikan barang bawaan. Mung yang bertugas membantu mendorongpun ikut memegangi lori. Setelah bertanya kemana tujuannya dan ada kesepakatan harga, mulailah mereka mendorong lori tersebut. Kaki-kaki kecil bersandal jepit dengan lincah berjalan diatas batuan rel. Tangan-tangan mereka dengan kokoh mendorong beban yang ada. Sesekali mereka bercanda dalam tugasnya. Penulis pun merasa terenyuh melihat ini semua. Mereka semua lakukan demi membantu orangtua. Mereka lakukan karena ingin punya sesuatu dari kerja keras mereka sendiri daripada harus meminta. Sesekali  mereka berlari agar lori mereka bisa berjalan cepat.

Tiba-tiba ditengah perjalanan salah satu dari mereka ada yang berteriak "Oooi...depan ada yang mau lewat tuuh, berhenti dulu". Ya memang dari arah berlawanan dalam satu rel, terlihat lori lain yang juga sedang mengangkut penumpang. Tak pelak, diantara kedua lori itu harus ada yang mengalah. Jika terjadi hal seperti ini, maka salah satu lori harus dipinggirkan terlebih dahulu, tanpa harus menunggu siapa yang meminggirkan terlebih dahulu. Meminggirkan lori dilakukan dengan kesadaran mereka, jika salah satu lori hanya berpenumpang sedikit, sementara lori didepannya bermuatan banyak, maka yang bermuatan sedikitlah yang harus mengalah.

.Begitulah aktifitas para pendorong lori setiap harinya. Keberadaan mereka sebagai anak-anak, tak menyurutkan langkah mereka untuk bisa membantu orangtua. Masa-masa mereka sebagai anak-anak tak selalu harus dihabiskan dengan bermain. Dan mereka juga mempunyai mimpi. Bahwa kelak mereka pun tidak akan terus menjadi pendorong lori, mereka pun berharap bisa bekerja yang lebih baik kelak kemudian hari. Satu  yang mereka takutkan sebagai pendorong lori. Jika nanti pemerintah setempat menghidupkan kembali lintasan rel tersebut, maka "habislah" mata pencaharian mereka. Tapi roda tetap harus berjalan. Dan roda pembangunan itupun suatu saat akan menghempaskan mereka sebagai pendorong lori.  Tetaplah semangat sahabat-sahabat kecilku. Tetaplah lurus dengan segala mimpi dan niat kalian. Anakdolan






Tidak ada komentar:

Posting Komentar