AnakDolan.com

Rabu, 20 November 2019

Makna Gebogan dalam Tradisi Hindu di Bali.

15.01 0
 Makna Gebogan dalam Tradisi Hindu di Bali.
Saat kamu berkunjung ke Bali  pasti kamu pernah melihat perempuan Bali yang membawa buah-buahan di atas kepalanya? Ya, itu adalah gebogan. Gebongan atau biasa juga disebut dengan Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian buah buahan, jajanan dan bunga yang dikreasikan oleh umat Hindu di Bali. Jenis buah dan jajanan biasanya berinovasi mengikuti perkembangan zaman, jadi apa yang kita makan itulah yang kita persembahkan.  
  Makna atau filosofi banten gebogan juga terlihat dari bentuknya yang menjulang seperti gunung, makin ke atas makin mengerucut (lancip), dan di atasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti ke hadapan Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta.

Gebogan biasanya diusung oleh para ibu-ibu dan gadis-gadis Bali untuk dihaturkan ke pura saat upacara piodalan atau upacara dewa yadnya lainnya sebagai bentuk rasa syukur atas berkat yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa
Ukurannya gebogan secara keseluruhan pun bermacam-macam, mulai dari setengah meter hingga satu meter. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk membuat gebogan tergantung ukuran dan buah yang digunakan, misalnya ukuran sedang butuh biaya sekitar Rp 300 ribu. 
Tinggi rendahnya Gebogan /Pajegan tergantung dari keiklasan dan kemampuan dari masing-masing individu membuat Gebogan, karena nilai dari sebuah Gebogan/Pajegan tidaklah diukur dari tinggi atau rendahnya akan tetapi dari keiklasan hati dalam menunjukkan rasa syukur. Dan selebihnya merupakan bentuk pengapresiasian seni.
Sehingga harus dapat dipahami khususnya bagi umat Hindu, bahwa ketika ada upacara yadnya tidak dibenarkan adanya upaya kalau untuk berlomba-lomba membuat gebogan  hanya untuk dipamerkan kepada orang lain apalagi sampai dipaksakan membeli buah dengan mencari utang dan akhirnya mengkambing hitamkan agama. Karena hal seperti itu akan mengurangi makna utama dari dibuatnya Gebongan dalam upacara yadnya yaitu  sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang tepat atau kurang lengkap, mohon dikoreksi bersama. Suksma…
  
  www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya!  

Jumat, 01 November 2019

Tari Gandrung Sebagai Identitas Budaya dan Daya Tarik Kota Banyuwangi

17.11 0
Tari Gandrung Sebagai Identitas Budaya dan Daya Tarik  Kota Banyuwangi

Tari Gandrung, atau biasa disebut dengan Gandrung Banyuwangi adalah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Kota Banyuwangi Jawa Timur. 



Oleh karena tarian ini pulalah Banyuwangi juga di juluki sebagai Kota Gandrung, dan terdapat beberapa patung penari gandrung di setiap sudut kota. Salah satu kesenian khas yang menjadi icon Kabupaten Banyuwangi ini, Tari Gandrung masih satu aliran dengan Jaipong Jawa Barat, dan Ronggeng Jawa Tengah yang menjadi hiburan rakyat di acara-acara hajatan. Tari Gandrung biasanya disuguhkan dalam menyambut musim panen raya, resepsi pernikahan, khitanan, serta seremonial lainnya. 

Ada banyak versi mengenai awal kemunculan tari ini. Salah satunya menyebutkan tari ini muncul setelah kekalahan pahit yang dialami rakyat Blambangan saat melawan VOC.  Tarian Gandrung ini digunakan sebagai pemersatu rakyat Blambangan yang tercerai berai karena kekalahan.  Dan ada juga versi tarian ini berkisah tentang terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi padi, Dewi Sri yang membawa kesejahteraan bagi rakyat Blambangan. Namun seiring waktu, Tari Gandrung tak hanya menjadi alat untuk ucap syukur semata pada Dewei Sri, tetapi juga alat pemersatu  masyarakat.
Ada fakta unik dan menarik dari Tari Gandrung ini. Menurut catatan sejarah, tari gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan dengan instrument musik utama kendang akan tetapi biola juga telah digunakan. Sekitar tahun 1890 Gandrung laki-laki ini perlahan berkurang dan lama-kelamaan hilang dari pentas Tari Gandrung Banyuwangi. Dan di tahun 1914 Gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap dan di gantikan para wanita. Kini Tari Gandrung dipentaskan oleh wanita, gerak gemulai yang meriah dengan pakaian dominan merah dan emas Tari Gandrung bisa memukau siapapun penontonya.  Di masa lalu, Tarian Gandrung bisa dilakukan semalem suntuk, sebab dalam tari Gandrung Banyuwangi terdapat tiga tahapan tarian yaitu Jejer, Maju, dan Seblang Subuh. Tapi di masa sekarang pertunjukan tari Gandrung hanya digelar sekitar 60 menit saja. 


Tata busana penari Gandrung sangat khas dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lainnya, karena masih ada pengaruh dengan Bali yang tampak. Pada bagian kepala penari dipasangi hiasan seperti mahkota yang disebut omprok terbuat dari kulit kerbau dan diberi ornament berwarna emas dan merah serta diberi ornament tokoh wayang Antasena, yaitu putra Bima yang berkepala raksasa namun berbadan ular yang menutupi seluruh rambut penari Gandrung. Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga diatasnya yang disebut cundhuk mentul. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.  Busana untuk tubuh pun terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornament kuning emas, serta manik-manik mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit dari leher hingga dada.  Penari gandrung juga menggunakan kain batik dengan bermacam corak. Namun corak batik yang paling banyak dipakai saat ini, serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, dan corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah dengan dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi.

Pada perkembangannya, Tari Gandrung Banyuwangi telah berhasil menggaet wisatawan asing untuk antusias melihat dan mempelajari kebudayaan Indonesia dan sekaligus berwisata ke Indonesia. Ini tentu suatu hal yang baik bagi kemajuan banyak sektor, termasuk bagi perekonomian dan pariwisata warga Banyuwangi. Dan jika kamu pengen menonton langsung tarian Gandrung datanglah ke Banyuwangi dan setiap tahunya pemerinta Banyuwangi mengelar acara Tari kolosal Gandrung Sewu. Dan Tarian Gandrung Sewu juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Festivalnya sendiri ditetapkan sebagai '10 Best Calendar of Event' (CoE), Pariwisata Indonesia yang dipilih oleh Kementerian Pariwisata.

Rabu, 16 Oktober 2019

Pulau Padar Yang Tidak Akan Pudar dari Wisatawan

14.41 0
Pulau Padar Yang  Tidak Akan Pudar dari Wisatawan

Pulau Padar Taman Nasional Komodo, akhirnya perjalanan  saya bisa liburan kesini setelah sekian lama pengen banget mengunjungi pulau yang makin ngehits di social media ini bahkan makin ramai karena akses menuju pulau ini sudah sangat gampang.  Buat yang belum tahu, sedikit info letak nya, Pulau Padar, adalah salah satu pulau di Kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau ini relatif lebih dekat ke Pulau Rinca daripada ke Pulau Komodo. Pulau ini dipisahkan oleh Selat Lintah, yang belakangan ini semakin ngehits apalagi dengan penetapan pemerintah dan dinas pariwisata menjadikan Destinasi Premium di Labuahan Bajo, Kalau tetep nggak tahu, mungkin kalian bisa buka sosmed atau hashtag #pulaupadar .

 Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena berada dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Gili Motang.  Dan pulau ini masih bersih tanpa penghuni manusia, jadi kalau kesini kalian catat jam buka kunjungan nya ya.

 






Pulau ini memiliki cara tersendiri untuk menghipnotis para pengunjungnya.  Dari tanjakan hingga warna rumput yang sesuai dengan musim di Indonesia, nah kebetulan pas saya kesini rumput lagi berwarna hijau dan masih tetep cantik.  Meskipun pulau ini adalah pulau terbesar ketiga yang ada di Kawasan Taman Nasional Komodo, Pulau Padar memang agak terlambat dikenal. Mungkin karena sebelumnya, Gili Laba, Pink Beach dan beberapa destinasi di Flores lainnya jauh lebih banyak disebut-sebut.  Sampai kemudian nama pulau ini muncul ke permukan (kalau kata filosofi yang indah datang nya belakangan atau jagoan datangnya di akhir film hehe) Iya, belakangan ini bahkan sekarang nama dan kecantikan pulau ini sering muncul di Instagram, dan mulai banyak disebut, nama Pulau Padar sekarang ini kian naik daun. Bahkan kaum anak muda melenial pun banyak yang merencanakan liburan ke Flores, pasti berkeinginan untuk mengabadikan diri di salah satu puncak bukit Pulau Padar.  Saya adalah salah satunnya contohnya, orang berkeinginan agar bisa menginjakkan kaki di pulau yang kece badai ini. Jadi meskipun lokasi Pulau Padar ini cukup jauh dari Labuan Bajo, itu nggak menghentikan niat orang-orang berburu foto instagram di padar! karean akses disini sudah benar-benar gampang dan mudah.


Saya berani merekomendasikan terbaik untuk destinasi satu ini, meskipun menguras cukup banyak energi untuk naik hingga puncak Pulau Padar dengan sepasang kaki ini. Ya karena untuk naik sampai puncak pulau ini kita harus berjalan kaki dengan rute menanjak. Belum lagi kalau air surut, kadang kapal nggak bisa merapat ke pulau ini mungkin, pilihan nya bisa berenang atau naik kapal yang lebih kecil.  Jadi siapin energi kamu dan jangan lupa bawa air mineral. Namun percaya deh, usaha yang dilakukan untuk mendaki salah satu bukit di Gili Padar akan terbayar! Dari ketinggian bukit Gili Padar akan terlihat lansekap daratan khas Flores yang berbukit-bukit, sedang dihimpit dua teluk dengan air yang begitu jernih dengan keindahan yang super wah!! Dan banyaknya pengunjung  wisatawan lokal bahkan banyak juga dari mancanegara terbukti Pulau ini 

Benar kata orang-orang, Taman Nasional Komodo ini memang surga yang diturunkan di bumi. Sekali datang lalu enggan pergi, sekalinya dia ada tapi tidak pudar.  Jika kamu berencana untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo. Yuk rencanakan dari sekarang.

Oh iya, sedikit ada tips nih kalau kamu mau naik ke Pulau Padar.  

Pertama : Pakailah sandal gunung atau sepatu hiking atau sepatu anti selip dan jangan pernah pakai sandal jepit, karena jalur puncak licin dengan kemiringan yang tajam dan cukup ekstrim.

Kedua : Waktu terbaik untuk dating ke Pulau Padar, Datanglah Pagi atau Sore untuk mendapatkan foto terbaik.

Ketiga : Bawa alat-alat hiking yang sefti, dan air minum yang cukup

Keempat : Bawa payung atau topi, untuk menutupi kepala dari panas teriknya matahari yang menyengat.

Selamat berlibur ke Pulau ini dan buang sampah mu pada tempatnya.
 



Senin, 19 Agustus 2019

“Kirab Manten Tebu” demi manisnya panen gula pabrik gula Madukismo

20.43 0
“Kirab Manten Tebu” demi manisnya panen gula pabrik gula Madukismo
Terletak di selatan kota Yogyakarta, sekitar empat kilo menuju arah selatan, ada pabrik gula tertua pabrik gula Madukismo yang merupakan penghasil gula pasir kualitas terbaik masih berdiri kokoh. Ini adalah satu-satunya pabrik gula yang ada di Yogyakarta.


Pabrik ini terlahir pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah delapan tahun beroperasi, Presiden Soekarno pun meresmikan pabrik gula ini. Setahun setelah diresmikan, pabrik ini baru dapat memproduksi spritus. Hingga kini, Madukismo masih menghasilkan gula dan spiritus.

Dalam setahun, pabrik ini hanya berproduksi selama enam bulan, mulai Mei hingga Oktober. Menariknya, sebelum memulai giling (produksi), pabrik Madukismo memiliki tradisi yang unik, yakni kirab manten tebu. Ritus ini merupakan tradisi yang diwariskan sejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX.


Dalam prosesi, banyak dijumpai ratusan sesaji berupa tumpeng, jenang, dan ingkung. Ada juga kepala kerbau dan sapi yang nanti akan ditanam di mesin penggilingan. Ritus ini bertujuan menyambut musim giling agar diberikan keselamatan dan menghasilkan gula yang melimpah ruah dengan kualitas baik. Para pekerja yang nantinya akan bekerja di pabrik juga diharapkan selamat dalam bekerja.

Prosesi manten tebu dimulai dari arak-arakan, dengan jalur mengitari pabrik. Arak-arakan ini juga diramaikan kelompok seni desa setempat dan beberapa prajurit dari Keraton Yogyakarta. Setelah itu, dilakukan prosesi ijab-abul antara tebu Kyai Tumpak dan Nyai Kasih, bertempat di masjid setempat. Prosesi terakhir adalah menanam sesaji kepala sapi dan kerbau ke tempat penggilingan tebu yang sebelumnya didoakan oleh para sesepuh.

2019 @ www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya! Follow ig Anak Dolan ( @anakdolan )