AnakDolan.com

Jumat, 12 Juni 2020

Kuliner Exstreme Kripik Belalang Goreng, Khas Gunung Kidul.

23.04 0
Kuliner Exstreme Kripik Belalang Goreng, Khas Gunung Kidul.


Halo Bro! apakabar? Riding bertemu jalur ekstrim menjadi hal yang menyenangkan dan mendebarkan bagi yang suka hobi menjelajah tempat wisata dengan Motor. Tapi kalau riding dan bertemu kuliner ekstrim??

Perjalanan riding gwe kali ini masih di Jogja yg istimewah, sekarang giliran gunung kidul yang gwe singahin. Kota yang terkenal dengan pesisir laut selatan nya dan Gunungkidul adalah destinasi wisata di Yogyakarta yang sedang naik daun, surganya pantai dan wisata minat khusus seperti river tubing, rafting, rock climbing dan surfing . tidak hanya menawarkan tempat yg eksotik pantai,hutan dan tebing nya, Gunung Kidul juga menawarkan daharan (makanan) yang exstreme dan cukup unik, yaitu belalang goreng atau walang goreng. Walaupun belum seterkenal gudeg dan angkringan jogja, belalang goreng merupakan makanan khas dari Gunung Kidul yang mulai banyak mencuri perhatian wisatawan saat berkunjung atau menjelajah kawasan Gunung Kidul.

Belalang adalah jenis serangga herbivora yang memiliki antena. Binatang ini memiliki sayap, namun pendek sehingga tidak bisa digunakan untuk terbang layaknya burung merpati heheh. Bagi kebanyakan masyarakat, belalang dianggap sebagai hewan liar dan hama tanaman. Tetapi di beberapa daerah, hewan ini masih dimanfaatkan menjadi sumber pangan yang kaya nutrisi.
Di Meksiko, belalang digunakan sebagai salah satu makanan yang difavoritkan. Ternyata Indonesia, khususnya Jogja dan di daerah Gunung Kidul, juga menjadikan hewan ini sebagai salah satu camilan renyah enak dan murah. Selain itu belalang juga punya kandungan protein hewani yang 20 hingga 40 % lebih tinggi dari protein yang ada pada udang windu, daging sapi dan ayam dimana didalamnya terdapat asam amino essensial yang sangat berguna untuk mempercepat sekaligus melindungi pertumbuhan sel sel tubuh dan baik bagi peningkatan stamina cocok kan buat kalian yang beraktivitas tinggi seperti traveling dan touring.

Belalang yang diolah warga setempat adalah jenis belalang kayu. Belalang jenis ini banyak hidup di dahan pohon jati dan semak belukar yang banyak terdapat di sekitar kawasan Gunungkidul. Biasanya penduduk mengolah belalang goreng menjadi 3 varian rasa, yaitu rasa gurih, pedas dan manis dan mematok hara per/toplesnya 18-20 ribu.

Dimana Bisa Menemukan Penjual Belalang Goreng?, Gunung Kidul kan luas!! untuk mendapatkan belalang goreng ini tidak lagi sulit seperti dahulu, bila dulu mencari kuliner ini harus menunggu musim belalang tiba untuk menyantab cemilan ini, kini setiap hari pun ada . Belalang goreng sudah tersedia di berbagai pusat oleh oleh terutama di Gunungkidul, selain itu di sepanjang jalan Jogja – wonosari juga banyak pedagang di pinggir jalan yang menjual cemilan ini, Salah satunya adalah di Tahura Bunder yang belalang nya di goreng dadakan!! Masih anget bisa langsung dimakan dan rasanya dijamin renyah banget. Belalang Goreng juga enak loh! Buat dinikmati sambil minum kopi.  Kuliner Exstreme Kripik Belalang Goreng, Berani coba gak bro!!! Selamat mencoba!!!



2019 @ www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya.

Napak Tilas Masa Kecil Presiden RI Sang Proklamator Soekarno. Di Situs Ndalem Pojok Kediri.

22.19 0
Napak Tilas Masa Kecil Presiden RI Sang Proklamator Soekarno. Di Situs Ndalem Pojok Kediri.

Siapa yang tidak mengenal sosok Bung Karno, Bapak Bangsa sekaligus Proklamator yang selalu dikenang warga Indonesia. Kini banyak kalangan mencari tahu kisah hidup dari bapak bangsa ini sehingga dari tempat-tempat tertentu yang identik dan mengisahkan kisah beliau selalu dipadati masyarakat. Ir. Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. lahir pada 6 Juni 1901 tak ada seorang pun mengira jika bayi yang dikenal dengan nama masa kecil nya "Koesna" atau Soekarno atau Bung Karno itu akan menentukan jalannya sejarah dan nasib bangsa Indonesia.

Kali ini gwe gak membahas cerita sejarah perjuangan Ir. Soekarno, tapi kali ini gwe akan bercerita destinasi wisata sejarah, yang berada di "Situs Ndalem Pojok" Bung Karno pernah meninggalkan jejaknya di daerah Kediri. Bahkan pada masa kecilnya Bung Karno tinggal dalam rumah sederhana yang sekarang disebut Ndalem Pojok. Lokasi dari Ndalem Pojok berada di Desa Pojok Krapak, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Banyak cerita menyebutkan bahwa Ndalem Pojok merupakan satu rumah yang pernah disinggahi Bung Karno semasa kecilnya. Situs Ndalem Pojok, namanya tidak setenar beberapa situs sejarah lain di Indonesia. Padahal di sini tersimpan cerita peninggalan dari salah satu sosok paling tenar di negeri ini. masa kecil Soekarno, sempat dijalani di rumah sederhana ini.


Kediaman Orangtua Angkat Soekarno, R.M Soemosewoyo Situs Ndalem Pojok merupakan rumah dari R.M Soemosewoyo. Beliau adalah ayah angkat atau masih kerabat dari ayahanda Ir. Soekarno. Terletak cukup jauh dari jalan raya utama yang menghubungkan Wates dan Ngancar dan masih berada dalam kawasan lereng Gunung Kelud. Ndalem Pojok merupakan rumah yang dulu sempat mengisi hari-hari Soekarno kecil dan menghabiskan masa kecilnya di kawasan ini.  Nama Soekarno pun, diberikan ketika ia tinggal di Dusun Krapyak. Pergantian nama tersebut dilakukan oleh R.M Soemosewoyo selaku ayah angkatnya. Diceritakan, nama Soekarno kecil adalah Koesna Sosrodihardjo. Namun, nama tersebut diganti menjadi Soekarno sebab Koesna sering sakit-sakitan. Penggantian nama tersebut diceritakan merupakan bagian dari syarat mengobati Koesna yang diajukan oleh R.M Soemosewoyo. Syarat lainnya adalah Koesna diambil menjadi anak angkat. Sejak itu, Soekarno kecil menghabiskan sebagian waktunya di tempat ini.

Situs Ndalem Pojok merupakan bangunan yang sangat sederhana. Yaitu rumah khas Joglo yang material pembuatannya sebagian besar berupa bambu dan kayu. Rumah ini berdiri di atas lahan seluas hampir 1 hektar. Di bagian depan terdapat pohon Kantil atau Kenanga berukuran besar yang ditutupi kain motif kotak-kotak. Halamannya cukup luas dan asri. Benar-benar rumah dengan suasana desa yang menyenangkan. Ada banyak kisah sejarah yang dapat dicermati dalam bangunan klasik Ndalem Pojok. Bahkan sampai saat ini masih mempertahankan beberapa perabot aslinya. Saat mengunjungi, wisatawan bisa melihat bebrapa perabotan asli terutama kursi tamu. Di bagian teras rumah terdapat berbagai macam dokumentasi mulai foto Bung Karno dalam ukuran besar ditambah lagi foto dari sosok RM Soerati Soemosoewodjo dan keluarga besar Ibu Inggit Garnasih.

Terdapat empat kamar dalam Ndalem Pojok, ditambah dua kamar belakang ruang utama. Lalu terdapat pula satu kamar pusaka dan kamar tamu. Menariknya, pada era 1950an terdapat sebuah kamar khusus yang pernah disinggahi Bung Karno semasa menginap di Ndalem Pojok. Perjalanan  napak tilas kali ini membawa gwe ke suasana saat Soekarno kecil dulu. Mulai dari kamar yang digunakan saat Bung Karno balita hingga remaja. Kecil namun sangat bersejarah Rumah ini masih memiliki berbagai macam kisah sejarah yang menjadi bagian dari dokumentasi kehidupan Bung Karno. Kisah biografi dari sosok Bung Karno terbilang lengkap disajikan pada ruang Ndalem Pojok. Kemudian pada acara-acara tertentu seperti hari kemerdekaan dan Sumpah Pemuda juga sering dilakukan oleh masyarakat lintas budaya di situs Ndalem Pojok.

Meski ukurannya terbilang kecil saja, namun situ Ndalem Pojok di Kediri ini tetap layak untuk dijadikan tempat kunjungan wisata. Khususnya wisata pendidikan dan sejarah. Karena di lokasi situs inilah Bung Karno pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya. Setelah itu dia menjalani masa kuliah di Bandung dan melanjutkan kegiatan politiknya demi melawan penjajahan Belanda di Batavia atau Jakarta.




Bagaimana? Tertarik mengunjunginya? Napak tilas peninggalan bersejarah dari tokoh besar negeri ini? Agendakan segera kalau begitu ya!



2020 @ www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya!


Kamis, 11 Juni 2020

Tari Caci, Simbol dan Tarian Para Ksatria Dari Manggarai Flores

23.02 0
Tari Caci, Simbol dan Tarian Para Ksatria Dari Manggarai Flores

Saat mendengar kata “Caci” pasti terlintas dalam pikiran tentang cacian atau umpatan. Tapi bukan yang satu ini tentunya, Tarian caci memang berisi pertarungan menggunakan cambuk dan perisai antara dua penari yang saling melawan, namun nggak berarti cacian

Tarian asal Flores, Nusa Tenggara Timur ini adalah komunikasi antara Tuhan dan manusia. “Ca” berarti satu dan “Ci” berarti uji. Caci adalah simbol Tuhan, kesatuan, ibu pertiwi dan bapak langit Tari ini umumnya dimainkan saat syukuran musim panen, ritual tahun baru, upacara adat besar, juga dipentaskan saat menyambut tamu penting

Tarian ini merupakan kesenian yang bermakna sebagai media bagi para lelaki Manggarai untuk membuktikan kejantanan baik segi keberanian maupun ketangkasan. Meskipun dalam bentuk pertarungan, kesenian ini memiliki pesan damai seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa dendam diantara mereka. Hal inilah yang menunjukan semangat dan jiwa persahabatan tertanam di dalam diri mereka
Tari Caci sendiri  ada tiga jenis, yaitu Randang Uma untuk syukur terhadap hasil panen, Caci Lontong Golo bentuk syukur terhadap kesehatan, dan Caci Randang Weri Leka untuk peresmian kampung. Selain saat upacara syukur, tarian-tarian ini juga ternyata dimainkan pada acara pesta, atau peristiwa kebahagiaan

Caci:
Caci atau tari Caci atau adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti) , upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.
Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.


Peraturan:
Caci dimainkan dua orang laki-laki, satu lawan satu, namun memukul dilakukan secara bergantian. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan kelompok bertahan. Caci selalu dimainkan oleh kelompok tuan rumah (ata one) dan kelompok pendatang dari desa lain (ata pe’ang atau disebut meka landang yang berarti tamu penantang).Tarian Danding atau tandak Manggarai ditarikan sebagai pembuka pertunjukan caci. Penari caci tidak hanya menari namun juga melecutkan cambuk ke lawan sembari berpantun dan bernyanyi. Lokasi pertandingan caci biasanya di halaman rumah adat.
Bila pukulan lawan dapat ditangkis, maka pecutan tidak akan mengenai badan. Kalau pecutan tidak dapat ditangkis, pemain akan menderita luka. Jika mata terkena cambukan, maka pemain itu langsung dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain segera diganti.
Pertarungan berlangsung dengan diiringi bunyi pukulan gendang dan gong, serta nyanyian (nenggo atau dere) para pendukung. Ketika wakil kelompok bertanding, anggota kelompok lainnya memberi dukungan sambil menari-nari. Tempurung kelapa dipakai sebagai tempat minum tuak yang dipercaya dapat menggandakan kekuatan para pemain dan penonton. Seperti layaknya pertandingan bela diri, sebagian penonton ada mendukung penyerang, sementara sebagian lagi mendukung pemain bertahan. Anggota kelompok atau penonton bersorak-sorak memberi dukungan agar cambuk dilecutkan lebih kuat lagi.


Kostum dan simbolisme:
Caci berasal dari kata ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti uji. Jadi, caci bermakna ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah.
Pemain dilengkapi dengan pecut (larik), perisai (nggiling), penangkis (koret), dan panggal (penutup kepala). Pemain bertelanjang dada, namun mengenakan pakaian perang pelindung paha dan betis berupa celana panjang warna putih dan sarung songke (songket khas Manggarai). Kain songket berwarna hitam dililitkan di pinggang hingga selutut untuk menutupi sebagian dari celana panjang. Di pinggang belakang dipasang untaian giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan pemain.
Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni.Hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan.
Bagian kepala dan wajah pemain hampir seluruhnya tertutup hiasan kepala dan kain sarung (kain destar) yang dililit ketat di sekeliling wajah dengan maksud melindungi wajah dan mata dari cambukan. Seluruh kulit tubuh pemain adalah sah sebagai sasaran cambukan, kecuali bagian tubuh dari pinggang ke bawah yang ditandai sehelai kain yang menjuntai dari sabuk pinggang. Kulit bagian dada, punggung, dan lengan yang terbuka adalah sasaran cambuk. Caci juga sekaligus merupakan medium pembuktian kekuatan seorang laki-laki Manggarai. Luka-luka akibat cambukan dikagumi sebagai lambang maskulinitas.
Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.
Bagi orang Kabupaten Manggarai, caci merupakan pesta besar. Desa penyelenggara memotong beberapa ekor kerbau untuk makanan para peserta dan penonton.








2020 @ www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya!

Petani (Penyangga Tatanan Negara Indonesia)

00.55 0
Petani (Penyangga Tatanan Negara Indonesia)

Petani (Penyangga Tatanan Negara Indonesia)
Masyarakat Indonesia sejak zaman dulu memang hobi banget untuk menyingkat istilah. Salah satu singkatan yang sering dijumpai yaitu PETANI (Penyangga Tatanan Negara Indonesia). Kamu pasti baru tahu, kan?
stilah ini pasti familiar di telingamu kan? Bahkan ada lagunya juga yang selalu dinyanyikan para mahasiswa saat demo. Nah, usut punya usut, istilah petani ini adalah singkatan dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia.
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki lahan yang luas dan subur. Di era perjuangan menuju kemerdekaan, petani adalah profesi yang mendominasi. Saking pentingnya peran petani saat itu, Soekarno ingin mengangkat derajat petani untuk melawan penjajah.

Presiden pertama Indonesia itu juga memberi istilah khusus untuk petani, yaitu Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Istilah ini disampaikan Bung Karno pada 1952 saat menggalakkan swasembada pangan sebagai penjamin stabilitas nasional.
Petani juga menjadi landasan pemikiran marhaenisme Bung Karno. Dengan dominannya profesi petani di era perjuangan menuju kemerdekaan, sungguh tak mungkin bagi Bung Karno untuk melawan penjajah dengan pemikiran revolusioner yang berbasis pada buruh pabrik. Karena itulah, petani menjadi tulang punggung bagi identitas Indonesia.

Namun siapa sangka ternyata kata Petani merupakan sebuah kepanjangan.  Bung Karno-lah yang menyebutnya sebagai Penjaga Tatanan Negara Indonesia (Petani).





2020 @ www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya!