Tari Gandrung Sebagai Identitas Budaya dan Daya Tarik Kota Banyuwangi - AnakDolan.com

Jumat, 01 November 2019

Tari Gandrung Sebagai Identitas Budaya dan Daya Tarik Kota Banyuwangi


Tari Gandrung, atau biasa disebut dengan Gandrung Banyuwangi adalah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Kota Banyuwangi Jawa Timur. 



Oleh karena tarian ini pulalah Banyuwangi juga di juluki sebagai Kota Gandrung, dan terdapat beberapa patung penari gandrung di setiap sudut kota. Salah satu kesenian khas yang menjadi icon Kabupaten Banyuwangi ini, Tari Gandrung masih satu aliran dengan Jaipong Jawa Barat, dan Ronggeng Jawa Tengah yang menjadi hiburan rakyat di acara-acara hajatan. Tari Gandrung biasanya disuguhkan dalam menyambut musim panen raya, resepsi pernikahan, khitanan, serta seremonial lainnya. 

Ada banyak versi mengenai awal kemunculan tari ini. Salah satunya menyebutkan tari ini muncul setelah kekalahan pahit yang dialami rakyat Blambangan saat melawan VOC.  Tarian Gandrung ini digunakan sebagai pemersatu rakyat Blambangan yang tercerai berai karena kekalahan.  Dan ada juga versi tarian ini berkisah tentang terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi padi, Dewi Sri yang membawa kesejahteraan bagi rakyat Blambangan. Namun seiring waktu, Tari Gandrung tak hanya menjadi alat untuk ucap syukur semata pada Dewei Sri, tetapi juga alat pemersatu  masyarakat.
Ada fakta unik dan menarik dari Tari Gandrung ini. Menurut catatan sejarah, tari gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan dengan instrument musik utama kendang akan tetapi biola juga telah digunakan. Sekitar tahun 1890 Gandrung laki-laki ini perlahan berkurang dan lama-kelamaan hilang dari pentas Tari Gandrung Banyuwangi. Dan di tahun 1914 Gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap dan di gantikan para wanita. Kini Tari Gandrung dipentaskan oleh wanita, gerak gemulai yang meriah dengan pakaian dominan merah dan emas Tari Gandrung bisa memukau siapapun penontonya.  Di masa lalu, Tarian Gandrung bisa dilakukan semalem suntuk, sebab dalam tari Gandrung Banyuwangi terdapat tiga tahapan tarian yaitu Jejer, Maju, dan Seblang Subuh. Tapi di masa sekarang pertunjukan tari Gandrung hanya digelar sekitar 60 menit saja. 


Tata busana penari Gandrung sangat khas dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lainnya, karena masih ada pengaruh dengan Bali yang tampak. Pada bagian kepala penari dipasangi hiasan seperti mahkota yang disebut omprok terbuat dari kulit kerbau dan diberi ornament berwarna emas dan merah serta diberi ornament tokoh wayang Antasena, yaitu putra Bima yang berkepala raksasa namun berbadan ular yang menutupi seluruh rambut penari Gandrung. Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga diatasnya yang disebut cundhuk mentul. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.  Busana untuk tubuh pun terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornament kuning emas, serta manik-manik mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit dari leher hingga dada.  Penari gandrung juga menggunakan kain batik dengan bermacam corak. Namun corak batik yang paling banyak dipakai saat ini, serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, dan corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah dengan dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi.

Pada perkembangannya, Tari Gandrung Banyuwangi telah berhasil menggaet wisatawan asing untuk antusias melihat dan mempelajari kebudayaan Indonesia dan sekaligus berwisata ke Indonesia. Ini tentu suatu hal yang baik bagi kemajuan banyak sektor, termasuk bagi perekonomian dan pariwisata warga Banyuwangi. Dan jika kamu pengen menonton langsung tarian Gandrung datanglah ke Banyuwangi dan setiap tahunya pemerinta Banyuwangi mengelar acara Tari kolosal Gandrung Sewu. Dan Tarian Gandrung Sewu juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Festivalnya sendiri ditetapkan sebagai '10 Best Calendar of Event' (CoE), Pariwisata Indonesia yang dipilih oleh Kementerian Pariwisata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar