Menelusuri jejak Pelelangan Hiu Ilegal Terbesar di Pulau LOMBOK. Indonesia. - AnakDolan.com

Jumat, 20 Oktober 2017

Menelusuri jejak Pelelangan Hiu Ilegal Terbesar di Pulau LOMBOK. Indonesia.

Menelusuri Pelelangan Hiu Ilegal Terbesar di Pulau LOMBOK Indonesia

Tidak ada yang bisa memungkiri keindahan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pantai berpasir putih, air laut yang jernih, berpadu dengan gili-gili (pulau kecil) dan keragaman biota lautnya, membuat siapa pun akan betah berlama-lama di sini.


Perasaan seperti itu benar-benar saya rasakan saat ikut trip bersama teman ke Lombok Timur, tepatnya daerah Tanjung Luar beberapa waktu yang lalu. Saya dibuat takjub dengan keindahan Pulau Pasir, Pantai Tangsi dan kehidupan nelayan di sana.

Namun ada sesuatu yang sedikit mengalihkan pemandangan saya saat berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Luar yang memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Lombok.

Di balik keramahan masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi nelayan dan penjual hasil laut, menurut berita-berita portal luar negeri ternyata di sini, selain menyediakan berbagai hasil laut, juga memperjualbelikan ikan hiu dan pari manta secara ilegal. Selain itu, saya juga sempat membaca tulisan yang bagus sekali dari Erni Aladjai berjudul "Ikan-ikan Hiu dan Nelayan Tanjung Luar" yang berkisah tentang dinamika kehidupan nelayan yang menjadikan hiu sebagai tangkapan utamanya.

Di tulisan tersebut juga dijelaskan betapa seluruh masyarakat Tanjung Luar tidak bisa dilepaskan dari hiu; hidup dan kaya dari hiu, bahkan makan pun sate hiu juga kerupuk kulit hiu menjadi oleh-oleh khas daerah.

Karena itu, ketika saya sudah berada di sini, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya ingin membuktikan sendiri berita-berita dan tulisan yang sudah saya baca itu. Apakah benar ada banyak hiu yang diperjualbelikan bebas di Tanjung Luar?

Dan ternyata memang benar. Hiu dan pari manta dijual bebas di TPI Tanjung luar. Sama halnya dengan udang, kepiting, kerang, tiram, cumi, tongkol, tenggiri, gurita, baronang, tongkol, dan hasil laut lainnya. Dijajakan oleh nelayan, ditawar oleh pengepul, dan siapa pun boleh membeli asal harganya cocok.


















Tidak ada tanda-tanda keanehan saat saya menyaksikan langsung jual beli hasil laut termasuk hiu di Tanjung Luar selain harga hiu yang memang jauh lebih mahal. Satu harga hiu dewasa, menurut seorang nelayan yang tak mau disebutkan namanya, berkisar 5-8 juta. Itu pun harus dari jenis hiu botol yang punya hati besar. Pasalnya hati hiu merupakan bahan utama pembuat minyak hiu yang sangat digemari di Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Sayang saya tidak mendapat informasi berapa harga hiu bukan botol dan seperti apa hiu botol itu karena nara sumber tadi langsung izin pergi untuk kembali menurunkan ikan.

Ilegal atau tidak, jujur saya tidak tahu menahu parameternya seperti apa. Apakah mereka, para nelayan itu menggunakan cara yang tak lazim saat berburu hiu. Atau apakah hiu-hiu tersebut diperjualbelikan di pasar gelap. Ataukah mereka memukul rata, dalam arti menangkap juga hiu-hiu yang dilindungi. Saya tidak tahu.

Mengenai hal ini, hiu-hiu yang dilindungi, sepengetahuan saya (mohon dikoreksi kalau salah), berdasarkan rilis World Wildlife Fund for Nature Indonesia (16/09/2014) antara lain, hiu koboy, hiu martil, dan hiu paus beserta ikan pari mata.

Saya pun tak sempat mengkonfirmasi jenis hiu apa saja yang dijajakan di TPI Tanjung Luar tersebut. Apakah termasuk hiu yang dilindungi atau bukan Foto yang di ambil teman saya ini bisa dijadikan referensi. Mungkin di antara para pembaca ada yang tahu, apa jenis hiu tersebut


Namun, seperti yang telah disinggung di paragraf awal, ada satu hal mengganggu di TPI ini. Tak lain dan tak bukan hal ini disebabkan banyaknya hiu kecil yang tergeletak, sudah mati, dan juga diperjualbelikan.

Tiba-tiba saya jadi sentimentil, berpikir bahwa masa depan mereka masih panjang, kok udah mati aja sih. Saya merasa sedih karena bayi-bayi hiu ini, mungkin penerus dari ibu-bapaknya yang telah ditangkap duluan. Merekalah ujung tombak regenerasi bangsa hiu di Indonesia.
Photo By @anakdolan



























Ini intinya yang sangat menganggu saya di TPI Tanjung Luar. Menurut DFW-INDONESIA, Ikan hiu sekali setahun bereproduksi dengan jumlah anak hiu yang berkisar pada jumlah 12-41 ekor. Coba dibayangkan  kalau mereka sudah ditangkap sedari kecil, sampai kapan keberadaan hiu bisa bertahan di laut Indonesia?

Tentunya hal ini harus menjadi perhatian pemerintah dan LSM yang bergerak di bidang terkait, untuk mencari solusi agar meminimalisasi bahkan menghilangkan sama sekali, penangkapan hiu-hiu kecil itu. Karena kalau dibiarkan terus menerus terjadi, kerugian akan menimpa semua pihak. Populasi hiu berkurang kemudian punah, nelayan pun kehilangan mata pencaharian. Sementara itu, Indonesia juga akan kehilangan salah satu kekayaan lautnya yang paling berharga.

Akhir kata, perjalanan di Tanjung Luar tetap sangat mengesankan. Nusa Tenggara Barat ibarat taman firdaus yang ada di dunia. Tak berlebihan kiranya jika Lombok, Nusa Tenggara Barat, dapat dianggap merupakan salah satu anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Karena itu, sudah seharusnya selain kita nikmati keindahannya, kita juga harus menjaga kelestariannya.

Foto-foto: koleksi IG @anakdolan #PhotographyMasukDesa
Tulisan by Muhammad Iqbal








2 komentar: