AnakDolan.com

Senin, 24 Februari 2020

Candi Plaosan, Monumen Cinta Dua Agama di Yogya

19.29 0
Candi Plaosan, Monumen Cinta Dua Agama di Yogya
Candi Plaosan, Monumen Cinta Dua Agama di Yogya


Mengunjungi Yogyakarta sebagai pilihan destinasi wisata merupakan hal yang sudah lumrah untuk kebanyakan orang, Yogyakarta dikenal dengan tempat wisatanya yang beragam, sehingga wisatawan dapat dengan leluasa memilih destinasi wisata mana yang akan dikunjungi, mulai dari gunung, pantai, bukit, hingga budaya semuanya tersedia di Jogja. Namun jika anda masih merasa kurang atau bahkan merasa bosan dengan apa yang ada di Yogyakarta anda dapat mengunjungi daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta yang memiliki tempat wisata alternatif untuk anda yang

menginginkan suasana baru, salah satunya anda dapat mengunjungi Kabupaten Klaten Jawa Tengah yang terdapat beberapa destinasi wisata termasuk wisata candi. Seperti yang sudah diketahui bahwa Yogyakarta memiliki peninggalan sejarah berupa candi-candi yang tersebar dibeberapa daerah khususnya daerah Kabupaten Sleman bagian timur atau berbatasan langusung dengan Kota Klaten, Jawa Tengah. Nah di Klaten ini anda juga dapat mengunjungi salah satu candi yang cantik dan unik karena memiliki karakteristik dan keunikannya tersendiri yaitu Candi Plaosan.


Terletak di Kabupaten Sleman bagian timur atau berbatasan langsung dengan Kota Klaten, Jawa Tengah, Candi Plaosan menjadi alternatif bagi Anda yang merasa kurang atau bosan dengan apa yang ada di Yogyakarta atau yang 'itu-itu saja'.

Terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Prambanan, banyak yang menyebut Candi Plaosan sebagai Candi Kembar. Di kompleksnya terdiri atas 2 Candi utama yaitu Candi Plaosan Lor (bagian utara) dan Candi Plaosan Kidul (bagian selatan).
Candi Plaosan Lor berjenis kelamin perempuan dan relief yang diukir menceritakan kehidupan perempuan pada masa lampau. Candi Plaosan Kidul berjenis kelamin laki-laki sehingga anda akan menemui relief yang menceritakan kehidupan laki-laki pada masa lampau.

Candi ini dikelilingi bongkahan batu dari reruntuhan prasasti purbakala yang menambah kesan megah bagi pengunjungnya. Candi Plaosan menjadi saksi bisu sejarah peradaban kerajaan pada masa Dinasti Syailendra, dan memiliki cerita tentang toleransi antar umat beragama.

Berdasarkan cerita sejarah, Candi Plaosan dibangun oleh Rakai Pikatan yang beragama Hindu untuk permaisurinya Pramodyawardani yang memeluk agama Buddha.

Berbeda dengan tetangganya, Candi Prambanan yang menceritakan kisah cinta bertepuk sebelah tangan, Candi kembar cantik ini mengisyaratkan kekuatan cinta yang menyatukan perbedaan.
Perbedaan tersebutlah yang menjadikan Candi Plaosan sebagai simbol bahwa kekuatan cinta dapat menyatukan perbedaan apapun. Selain menjadi simbol kekuatan cinta, Candi Plaosan menjadi simbol bentuk toleransi antar umat beragama. Candi Plaosan sendiri terbagi menjadi 2 bangunan utama yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul yang sering juga disebut sebagai Candi Kembar karena memang keduanya memiliki bentuk yang sama atau mirip. Berdasarkan relief yang berada dikedua candi tersebut mengisahkan tentang perjalanan cerita cinta antara Rakai Pikatan dan Pramodyawardani. Konon relief yang terdapat di candi sebelah selatan atau kidul menggambarkan bentuk kekaguman Pramodyawardani terhadap Rakai Pikatan dan candi yang di sebelah utara atau lor mengisahkan kekaguman Rakai Pikatan terhadap permaisurinya Pramodyawardani sehingga Candi Plaosan mendapat julukan atau simbol cinta kasih yang sangat sempurna.


Tidak banyak yang mengetahui kisah percintaan di balik Candi Plaosan ini karena mungkin kisah cinta yang lebih populer terdapat di Candi Prambanan dengan kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Perbedaan dari kedua kisah tersebut adalah antara cinta yang sempurna yang berasal dari Candi Plaosan dan cinta yang bertepuk sebelah tangan dari Candi Prambanan. Jauh sebelum cerita romantis Romeo dan Juliet ada ternyata di Indonesia sudah memiliki cerita yang lebih romantis. Duh, makin cinta sama Indonesia! Hehe
Tapi sebaliknya jika seorang membawa pasangannya ke Candi Plaosan, banyak yang percaya bahwa jika menjalin hubungan atau saling berucap janji di Candi Plaosan maka hubungan mereka akan langgeng selamanya.
Tapi itu semua tergantung kepercayaan pada pasangan masing-masing.


Mengunjungi Candi Plaosan akan menjadikan perjalanan yang sangat menyenangkan, terlebih lokasi Candi Plaosan berada di tengah areal pesawahan juga menjadikan candi terasa lebih eksotis. Selain itu, jika kita mengunjungi Candi Plaosan mendekati senja, maka akan menjadi nilai lebih karena kita bisa menyaksikan senja yang romantis diatas relief Candi Plaosan yang megah.

Jangan percaya apa yang mereka katakan. Pergi, datangi dan lihatlah sendiri. Begitulah kira-kira, kata yang sampai detik ini membawaku selalu ingin berpetualang, bertemu hal baru dan mencari pengalaman anti-mainstream di Indonesia



www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya! 

Rabu, 29 Januari 2020

Serba-serbi Proses Pengolahan Ikan Asin di Utara Jakarta

17.09 0
Serba-serbi Proses Pengolahan Ikan Asin di Utara Jakarta

Bau amis mulai menyergap dan menyengat  dan tak jauh dari sana dijumpai tulang-tulang ikan besar dijemur di tepi jalan. Agak masuk ke dalam gang kecil para pembuat ikan asin sibuk mengolah ikan yang sedang dijemur, seperti memisahkan kepala hingga mensortir sesuai ukuran. Ya kali ini saya berada di Pengolahan ikan asin Muara Angke, Ada puluhan pembuat ikan di sini sepertinya.

Dalam sehari industry ini bisa mengolah ikan asin hampir mencapai lima ton dengan bahan baku 10 ton garam yang mampu bertahan selama 15 hari.
Pengolahan ikan asin Muara Angke, adalah salah satu Kawasan penghasil ikan asin atau ikan kering terbesar di Jakarta. Sentral industri pengolahan ikan asin tersebut berada di blok pengasinan muara angke di kelurahan kapuk, kecamatan penjaringan ,Jakarta utara
Muara angke adalah sebuah perkampungan nelayan yang sangat ramai dan juga sebagai salah satu yang terbesar di wilayah ibukota. Industry ini bahkan memasok sebagaian besar kebutuhan ikan bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Selain keberadaan nelayan tradisional, muara angke juga menjadi tempat pemasaran ikan dari berbagai daerah di pulau jawa.
Saat memasuki area ini kalian akan langsung melihat aktivitas warga yang sedang mengolah atau membelah ikan dan juga para pekerja yang sedang melakukan proses pengeringan ikan asin dengan menjemur di bawah terik matahari.
Saban musim di kawasan Muara Angke selalu mengalami kendala terkena imbasnya, air laut naik menggenangi sejumlah ruas jalan sehingga mobilitas pengendara dan pengguna jalan agak terganggu.
Hampir setiap hari kawasan Muara Angke sibuk oleh bongkar muat tangkapan nelayan di pelabuhan hingga sentra penjualan ikan. Selain pengolahan ikan asin, Muara Angke adalah sentra pasar ikan tangkap tradisional Di sini banyak restoran yang menjual jasa membakar atau memasak ikan, sementara pelancong atau wisatawan harus membeli ikannya di pasar ikan tak jauh dari sana.



www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya! 

Senin, 27 Januari 2020

Mengenal Dekat dengan Petani Durian, Sambil Dolan Durian di Bangka

18.44 0
Mengenal Dekat dengan Petani Durian,  Sambil Dolan Durian di Bangka


Awal tahun berganti dengan duka di beberapa kota. Banyak yang bersedih tapi ada juga yang mampu beradaptasi. Mencari penghiburan di tengah-tengah benca banjir yang melanda di sejumlah titik Jabodetabek. Usai kondusif, perjalanan berburu durian ke Bangka akhirnya tetap dilakukan.

Berbekal informasi dari pegiat durian di media sosial, saya dan tiga teman seperjalanan yang terhimpun dari sosial media melakukan trip bersama, kami mengawali tahun 2020 dengan dolan durian!

Bersama pemandu lokal, pak haji Sampurno dan Ary Babel kami diajak berkeliling Bangka Barat dan Bangka Tengah selama tiga hari. Mencari durian yang tersohor dari Bangka; Cumasi dan Supert Tembaga.

Hari pertama kami menuju desa Tuik, kecamatam Kelapa. 1.5 jam perjalanan dari bandara Pangkal Pinang. Atmosfernya mirip perjalanan saya sebelumnya ke Pahang, Malaysia. Sepanjang jalan mayoritas ditanami sawit. Kami masuk ke dalamnya dan menemukan perkebunan milik keluarga Wirwanto (29), ia generasi kedua. 

Durian yang ia namai sendiri seperti Upin Ipin (karena bentuknya yang kecil) dan Si Kapas (karena bobotnya yang enteng) jadi dua durian yang menyita perhatian saya dan teman-teman. Kami semua sepakat, kedua durian tersebut unggulan di kebun miliknya.

Walaupun kecil hanya sekepalan tangan, tapi rasa, tekstur, dan warna bikin kami ngiler! Secara rasa, saya lebih suka Upin Upin karena lengket, lembut, dan punya manis pahit serta biji yang kempet. Namun secara warna, Si Kapas lebih menarik. Dengan rasa dan tekstur yang serupa Upin Ipin tapi hanya dibalut pahit yang sangat tipis. Keduanya bikin hangat tenggorokan!

Setelah disuguhi makan siang bintang lima dengan menu kakap dan kepiting segar lengkap bersama lalapan, sayur, dan sambal yang rasanya kelas restoran, kami kedatangan durian dari kebun lain.


Seseorang berbaju kuning itu bilang menempuh jarak 6 kilometer untuk sampai ke kebun Wirwanto. Ia berboncengan dengan balita dan istrinya membawa durian Si Kunyit. Walaupun tak selengket dua durian sebelumnya, durian Kunyit punya rasa yg segar dan tekstur yang "pecah" di mulut saat dilumat. Lumayan ada variasi rasa.

Penutupnya, kami beruntung dapat satu buah durian jatuhan pertama dari buah perdana pohon durian bapak mertua Wirwanto, namanya pak Abdullah Karim (47). Dari pohon yang ia perkirakan lebib 10 tahun itu baru pertama kali berbuah musim ini.

Kami terkejut! Durian yang ia bawa dan belum diberikan nama itu punya warna mirip Si Kapas, tapi dengan tekstur yang lebih kering dan lengket serta biji yang kempes. Cita rasanya seperti gabungan Upin Ipin dan Si Kapas. Lengkap! Harusnya bisa jadi durian unggulan yang baru dari Bangka Barat. Lebih senangnya kami diminta memberikan nama. Ya sudah, salah satu dari kami teriak "Mertua!" Saya timpali "Super Mertua!" Semoga layak disandang menjadi nama durian Super Mertua dari Bangka Barat.

Perjalanan kami lanjutkan ke kebun pak Harun (54), di desa Kedondong, kecamatan Jebus. Tapi sayang durian unggulnya yang sempat juara kabupaten, durian Si Bandar (karena pohonnya di pinggir bandar/parit) belum ada yang jatuh. Tapi lelah kami selama perjalanan dari pukul 3 pagi terbayar di kebun Wirwanto.

Hari kedua di Muntok, Bangka Barat kami bertolak dari penginapan lebih pagi agar bisa ikut sarapan makan penganan khas Bangka; kue-kue manis, kopi, otak-otak, pempek, dan olahan tepung beras dengan sayur kuning. Sederhana namun lezat. Pas untuk isi perut buat fondasi sebelum perjalanan

Selepas itu kami berkeliling wisana di Muntok. Mulai dari mercu suar di Tanjung Kalian, tempat pengasingan Soekarno-Hatta dan tokoh negara RI di bukit Menumbing, sampai ke museum Timah.

Selingan wisata lokal ini membuat saya juga ikut mengenal nilai histori Bangka Barat kala hasrat hanya ingin berburu durian. Bahwa setiap destinasi perburuan durian punya beragam destinasi lain yang menarik selain kuliner.

Selepas istirahat dari perjalanan destinasi tersebut, kami menuju beberapa lokasi perkebunan dan hutan durian. Tujuan pertama ke Delis Tani menyasar Cumasi dan Super Tembaga. Namun kami tidak berhasil mendapat kualitas yang maksimal, terlebih untuk Super Tembaga. Banyak faktor, mungkin cuaca dan hal teknis lainnnya. Semangat terus untuk petani durian!

Tapi saya jadi banyak mendapatkan pelajaran. Pentingnya bertanggung jawab terhadap barang yang dijual adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Walaupun pilihannya dihadapkan dengan rupiah di depan mata atau merelakannya untuk investasi kepercayaan dan kepuasan customer.

Kemudian kami lanjut ke pemilik pohon durian Gong Li. Seorang dokter dan pengiat durian yang tinggal di Pangkal Pinang, dr. Ase memberika nama itu karena pohonnya terletak di Simpang Gong. Dan warnanya mirip warna kulit seleb Tiongkok, Gong Li. Genit juga dokter satu ini memang hahaha.. Tapi sayang buah yang kami dapat sudah buah akhir. Rasa pun kurang memikat kami.

Dengan ekspektasi yang merosot pada dua lokasi perburuan durian sebelumnya, akhirnya di tempat ketiga berbuah manis. Semuanya terbayar penuh di sana, di hutan durian milik haji Ulung.

Dua Sosok Istimewa
Untuk usia mendekati kepala enam, menaiki dan menuruni bukit yang terjal masih terbilang lincah. Mengenakan batik merah dan topi, keriput di sekujur tubuhnya menertawakan kami yang muda-muda, tergopoh saat menanjak diselingi rehat sesaat.

Pak haji Ulung, begitu ia akrab disapa. Pemilik 5 hektar hutan durian di kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat. Paling tidak adasekitar 500 batang durian yang ia ingat pernah ditanaminya sewaktu muda karena keinginan untuk memiliki pohon durian. Saat itu teman-teman seusianya justru asyik menikmati pohon durian peninggalan orang tua. Semangat saya ikut terbakar. Ia membuktikan keinginan itu bisa diwujudkan.

Kami serombongan tiba sore hari, menempuh lebih dari 15 menit memasuki hutan. Setibanya di sana kami disambut dengan durian Uren (Orange) yang ia sebut secara sederhana berdasarkan warna daging duriannya. Ratusan pohon lokal di sana enggan ia namai karena takut tak bisa dipertanggung jawabkan antara rasa dan kepopulerannya.

Tidak seperti dua durian bangka yang viral tersebut dan punya harga tinggi namun tahun ini tidak panen dengan performa yang maksimal. Durian-durian no name milik pak haji Ulung justru lebih berkualitas dan berkarakter menurut kami.

Mungkin kami memang sedang kurang beruntung, panen musim ini tidak menghadirkan Cumasi dan Super Tembaga yang mantul. Tapi setelah membuktikan dengan pencarian di Pangkal Pinang, kawan kami, Leo berhasil mendapatkan Namlung yang bagus lewat dagangan durian pinggir jalan Ko Acin.

Pria tua yang sudah berdagang 20 tahun lebih ini sampai membelah empat Cumasinya. Semua mengkal dan berair di dalam. Rasanya pun berantakan, tidak sesuai dengan ekspektasi kamk yang tinggi. Setelah menyerah, ia ingat masih simpan Cumasi dari pohon lain. Segeralah anak bhahnya bawakan dari tempat penyimpanan di lokasi berbeda.

Akhirnya dapat Cumasi yang bagus! Pahit, creamy, beralkohol, daging tebal. Namun permukaan dagingnya masih punya tekstur garing. Entah, kami belum punya perbandingan. Yang kami tahu, malam itu Cumasi terbaik yang kami dapatkan.

Walaupun begitu, kami serombongan yang penasaran dengan Namlung menyatakan sepakat koleksi durian lokal haji Ulung masih lebih berkualitas dengan harga yang jauh lebih terjangkau dan relevan.

Kelekak, Budaya Memberi Manfaat untuk Anak Cucu
Sebelum kembali ke Jakarta, seorang pemborong kebun durian, bang Rudy mengajak saya dan rombongan singgah di kebun daerah Air Mesu, desa Bukit Kijang, Bangka Tengah. Ia mengaku musim kali ini tak berpihak pada durian Cumasi dan Super Tembaga. Durian lokal yang menjadi harapan satu-satunya.


Setelah itu kami diajaknya masuk ke dalam hutan durian, masih di dalam kawasan Air Mesu, Bangka Barat. Hutan durian tersebut milik keluarga haji Syahrul (56) yang setiap musim panen tiba, ia dan istrinya, Nurmala (54) akan menginap di pondokan dalam hutan durian untuk menjaga sekaligus memanen durian dengan beberapa orang yang mereka pekerjakan. Dalam sehari beberapa tengkulak dan pedagang hilir mudik mengambil hasil panen duriannya.

Di lahan seluas 2 hektar itu, tak kurang dari 200 batang pohon durian sudah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang sudah ratusan tahun. Lahan miliknya merupakan peninggalan dari Kelekak, budaya memberi manfaat untuk anak cucu lewat tanaman buah yang di tanam. Kebanyakan jenis buahnya adalah durian, binjai / kemang, dan cempedak.

Konsep Kelekak ini menjadi menarik dan berkesinambungan dengan upaya pelestarian alam dan manusianya. Seorang budayawan Bangka Belitung, Suhaimi Sulaiman bahkan memanjangkannya menjadi “Kelak Kek Ikak”, artinya suatu saat nanti bermanfaat atau dapat diambil manfaatnya oleh kamu-kamu generasi yang akan datang.

Dolan durian ke Bangka memberikan saya banyak pelajaran. Kearifan lokal mereka dengan Konsep Kelekak Nampak nyata lewat kualitas durian yang dihasilkan ketimbang kualitas yang sengata dikebunkan untuk kebutuhan komersial. Tentu bagi saya dan teman-teman pemburu durian, kualitas rasa durian lokal di dalam hutan memberikan ragam rasa yang sangat kuat dan bervariasi.

Apalagi pemilik lahan di sana tidak berani untuk memetik duriannya. Mereka hanya mendistribusikan durian yang sudah jatuh kepada pedagang. Tentu ini adalah syarat utama durian dapat dinikmati dalam kondisi yang sudah pasti matang.

Bangka jadi kota yang menarik buat saya dalam industri durian. Karena bagaimanapun harga harus berbanding lurus dengan kualitas sebagai komitmen pertanggung jawaban.

Lewat sosok haji Ulung yang bersahaja, ramah, dan apa adanya. Ia mampu mempertanggung jawabkan kualitas durian-duriannya. Saya pastikan yang pernah ke tempatnya, bakal balik lagi.

Begitupun juga dengan Ko Acin. Pedagang yang berani menggaransi tanpa basa basi sampai dapat durian terbaik.

Semoga pegiat pertanian di Bangka atau di kota-kota lainnya mau belajar dari dua sosok istimewa tersebut dan mengimplementasikan di kebun dan lapak bakul duriannya masing-masing.

Sesungguhnya durian bukan soal komersil semata melainkan hospitality yang punya dampak ekonomis panjang dengan kesan baik yang terus diingat. Sehingga tamu atau customer yamg sudah merasakannya menjadi ringan untuk merekomendasikan kepada orang lain. Cerita baik dari durian baiklah yang akhirnya membawa rizki untuk mereka.


Penulis: Dzulfikri Putra Malawi  (KangDuren)

Selasa, 07 Januari 2020

Damn! I love ride to Suryanation Ridescape

19.49 2
Damn! I love ride to Suryanation Ridescape

Damn! I love ride to Suryanation Ridescape



Suryanation Motorland Ridescape, kembali hadir untuk para pecinta roda dua. Dengan mengusung tema “Ride To Inspire”,
Suryanation Motorland ingin memberikan kesan yang berbeda, dimana kegiatan ini bukan hanya sekedar touring
tapi juga sebuah gerakan untuk berbagi inspirasi. Sekilas tentang “Suryanation Motorland Ridescape” Setelah 2 tahun diselenggarakan minat dari para pecinta roda dua semakin meningkat. Diawali pada 2017 lalu, Suryanation Motorland Ridescape sukses terselenggara di Kawasan Hutan Pinus Mangunan, di wilayah Yogyakarta pada tanggal 1 – 3 Desember 2017. Tercatat 3000 bikers hadir dalam Suryanation Motorland Ridescape kali ini diikuti lebih 100 klub dan komunitas.

Selanjutnya pada 2018 Ridescape hadir di 2 kota, event pertama terselenggara di Pulau kalimantan suksesdihadiri oleh lebih dari 3000 bikers yang berkumpul bersama di area Kiram Park, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 28-29 Juli 2018. Sedangkan event kedua diadakan di pulau Sumatera. Bertempat di Lembah Harau, Lima Puluh, Kota Padang (18-19 Agustus 2018), acara ini dihadiri sekitar 3.000 bikers dari 227 komunitas.

Nah, ajang Suryanation Motorland Ridescape pada tahun 2019 makin seru karena akan hadir di tiga pulau yang berbeda. Kali ini, Suryanation Motorland Ridescape akan diadakan di 3 daerah yang terkenal akan keindahannya di Indonesia. Untuk event perdana Suryanation Motorland Ridescape 2019 berlokasi The Kaldera Nomadic Escape Danau Toba sampai Kabupaten Toba Samosir pada 26-27 Oktober 201. Lalu gelaran ke dua mengambil lokasi Sappa Laona, Kabupaten Barru 16-17 November 2019, dan event penutup dipilih kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Malang pada 14-15 Desember 2019. 

Nah kali ini saya berkesempatan menggikuti di penutupan acara Suryanation Motorland Ridescape 2019 yang berlokasi di coban rondo malang tanggal 14- 15 Desember 2019. Singkat cerita perjalanan saya mulai dari Jakarta dari tanggal 09 Desember 2019 dengan waktu tempuh lima hari sebelum penutupan acara. Sengaja waktu tempuh yang lama karena saya dan patner perjalanan riding saya Pak Didi pemilik akun Instagram @didifzr inggin menikmati perjalanan riding Jakarta – Malang dengan mengusung tema “Damn! I love ride to Suryanation Ridescape” Membagikan pengalama perjalanan menuju Suryanation Motorland Ridescape 2019 menemukan jalur riding baru yang belum pernah parah biker lewati, ahh mencadi cerita menarik buat kita.   Keseruan perjalanan dan bertemu orang-orang baru. menambah cerita riding yang semakin asik. menemukan jalur baru dan sampai berjam-jam di atas gunung dengan medan jalan yang rusak menjadi pengalaman yang tak terlupakan. tapi semua kebayar dengan keindahan pemandangan Indonesia yang sangat mempesona mata. Perjalanan  belum selesai disitu bagaimana kita diterjang hujan panas dengan cuaca yang tidak dapat di tebak, ah menjadi penyemangat perjalanan kita.  disinilah kami sepakat Damn Indonesia itu besar dan indah. Banyak rute jalur-jalur riding yang belum banyak bikers tahu, inilah alasan kami Damn! I love ride to Suryanation Ridescape heheh.


Sampailah kita di Coban Rondo Malang, dimana acara Suryanation Motorland Ridescape 2019 di gelar. Keindahan belum selesai di tempat ini  Coban Rondo sebagai lokasi diselenggarakannya acara lantaran punya jalur yang unik, berkelok dan menanjak. Sehingga menjadi tantangan sendiri bagi para bikers.
"Untuk mencapai lokasi ini, pun saya atau (bikers) yang hadir akan disuguhkan dengan jalanan yang berliku, menanjak dan disertai dengan keindahan alam yang elok dan elegan karena dikelilingi hutan pinus dan cemara," Sampailah saya di venue tempat acara, Tidak hanya keseruan saat perjalanan, ketika bikers hadir di venue acara Suryanation Motorland Ridescape sudah ditunggu berbagai aktivitas menarik. Selain menyuguhkan lokasi camping ang keren, banyak sekali games yang bisa diikuti oleh para peserta dan komunitas. Dan siap meramaikan acara Suryanation Motorland Ridescape 2019 di Malang.
Karena mengusung tema 'Ride to Inspire', peserta bikers tak hanya diajak touring saja tapi akan melakukan aktivitas untuk menjaga lingkungan, maupun promosi pariwisata.
"Berbagai kegiatan sudah disiapkan oleh panitia siapkan buat para bikers. Terbukti dari tingginya antusiasme komunitas dan bikers yang datang.  Event kumpul-kumpul lintas komunitas bikers yang sekaligus akan menjadi ajang 'Lebaran'-nya para biker ini berlangsung selama dua hari, pada 14-15 Desember 2019 di akhir pekan. Ribuan bikers yang hadir dari berbagai kota di Jawa Timur di lokasi acara akan disuguhkan dengan keindahan alam yang elok dan juga rangkaian kegiatan seru selama gelaran yang menggabungkan kegiatan touring dan camping ini.
Selain itu, untuk menghibur bikers yang hadir akan ada penampilan dari Andra & The Backbone serta selebritis roda dua mulai dari Bucek, Alit Susanto, Belo Gastank dan Angela Lorenza, model yang juga menggemari dunia roda dua.
"Saya berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu para bikers. Tidak hanya untuk berkumpul saja tetapi juga untuk meningkatkan rasa persaudaraan di antara bikers-bikers lain di seluruh Indonesia," heheh. Salam!







www.anakdolan.com Bangga Mencintai Negeri ini INDONESIA. Dan Buanglah Sampah pada tempatnya!